Selasa, 18 Desember 2012

LANGKAH AWAL MENUJU MASA DEPAN DENGAN MENGOLAH BOTOL PLASTIK BEKAS MENJADI MINYAK PELUMAS





A.   Pendahulan
Sampah merupakan suatu bahan yang dibuang atau terbuang sebagai hasil dari aktifitas alam yang tidak/belum memiliki nilai ekonomis. Pengelolaan sampah adalah pengumpulan, pengangkutan, pemrosesan, pendaur-ulangan, atau pembuangan dari material sampah. Kalimat ini biasanya mengacu pada material sampah yang dihasilkan dari kegiatan manusia, dan biasanya dikelola untuk mengurangi dampaknya terhadap kesehatan, lingkungan atau keindahan. Pengelolaan sampah juga dilakukan untuk memulihkan sumber daya alam. Pengelolaan sampah bisa melibatkan zat padat, cair, gas, atau radioaktif dengan metoda dan keahlian khusus untuk masing-masing jenis zat. Praktek pengelolaan sampah berbeda-beda antara negara maju dan negara berkembang, berbeda juga antara daerah perkotaan dengan daerah pedesaan, berbeda juga antara daerah perumahan dengan daerah industri. Pengelolaan sampah yang tidak berbahaya dari pemukiman biasanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah, sedangkan untuk sampah dari area industri biasanya ditangani oleh perusahaan pengolah sampah. Pengelolaan sampah juga harus didasari dengan kesadaran masyarakat yang rajin dalam membuang atau memanfaatkannya menjadi sesuatu yang lebih berguna,  jika masyarakatnya menginginkan lingkungan yang bersih dan sehat.
Metode pengelolaan sampah berbeda-beda tergantung banyak hal, diantaranya melihat tipe zat sampah, tanah yg digunakan untuk mengolah sampah tersebut dan ketersediaan area. Tujuan dari pengelolaan sampah diantaranya adalah:
1.     Mengubah sampah menjadi material yang memiliki nilai ekonomis.
2.     Mengolah sampah agar menjadi material yang tidak membahayakan bagi lingkungan hidup.
3.    Menjaga keseimbangan lingkungan, terutama kesuburan tanah agar tetap terjaga.
Beberapa metode yang dapat dilaksanakan dalam metode pembuangan sampah, yaitu:
1)    Penimbunan darat sampah
Pembuangan sampah pada penimbunan darat termasuk menguburnya untuk membuang sampah, metode ini adalah metode paling populer di dunia. Penimbunan ini biasanya dilakukan di tanah yang tidak terpakai, lubang bekas pertambangan , atau lubang-lubang dalam. Sebuah lahan penimbunan darat yang dirancang dan dikelola dengan baik akan menjadi tempat penimbunan sampah yang bersih dan murah. Sedangkan penimbunan darat yang tidak dirancang dan tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan berbagai masalah lingkungan, diantaranya angin berbau sampah, menarik berkumpulnya hama, dan adanya genangan air sampah. Efek samping lain dari sampah adalah gas methan dan karbondioksida yang juga sangat berbahaya.
2)    Metode Daur ulang
Proses pengambilan barang yang masih memiliki nilai dari sampah untuk digunakan kembali disebut sebagai daur ulang. Ada beberapa cara daur ulang, diantaranya yaitu mengambil bahan sampahnya untuk diproses lagi atau mengambil kalori dari bahan yang bisa dibakar untuk membangkitkan listik. Metode-metode baru dari daur ulang terus ditemukan, seperti:
a)    Pengolahan kembali secara fisik
Metode ini adalah aktifitas paling populer dari daur ulang, yaitu mengumpulkan dan menggunakan kembali sampah yang dibuang, contohnya botol bekas pakai yang dikumpulkan kembali untuk digunakan kembali. Pengumpulan bisa dilakukan dari sampah yang sudah dipisahkan dari awal (kotak sampah/kendaraan sampah khusus), atau dari sampah yang sudah tercampur. Sampah yang biasa dikumpulkan adalah kaleng minum aluminum, kaleng baja makanan/minuman, botol kaca, kertas karton,  koran, majalah, dan kardus. Daur ulang dari produk yang komplek seperti komputer atau mobil lebih susah, karena harus bagian-bagiannya harus diurai dan dikelompokan menurut jenis bahannnya. Sehingga sulit untuk mendaur ulangnya. Metode ini bisa lebih efektif jika masyarakat bisa mengelompokkan sampah sesuai dengan jenis yang sama.
b)    Metode penghindaran dan pengurangan
Sebuah metode yang penting dari pengelolaan sampah adalah pencegahan zat sampah terbentuk, atau dikenal juga dengan "pengurangan sampah". Metode penghindaran seperti halnya penggunaan kembali barang bekas pakai, memperbaiki barang yang rusak, mendesain produk supaya bisa diisi ulang atau bisa digunakan kembali, mengajak konsumen untuk menghindari penggunaan barang sekali pakai (contohnya kertas tissue), dan mendesain produk yang menggunakan bahan lebih dapat sedikit untuk fungsi yang sama dan dapat terbaharui. Sehingga barang yang tadinya tidak bermanfaat menjadi barang yang bermanfaat. Dengan begitu kita dapat mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh sampah terhadap lingkungan dan terhadap kesehatan makhluk  hidup. Sampah yang dihasilkan dapat dimanfaatkan menjadi barang yang berdaya guna positif dengan sebaik-baiknya maksudnya adalah mengolah barang yang tidak berguna menjadi benda yang mempunyai nilai jual dan fungsi tertentu. Menghindari dan mengurangi sampah yang dihasilkan dalam setiap aktifitas atau kegiatan dapat dilakukan dengan memulai dari diri sendiri yang kemudian direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat tercapai lingkungan yang bebes dengan sampah terutama sampah botol plastik.
Konsep pengelolaan sampah
Terdapat beberapa konsep tentang pengelolaan sampah yang berbeda dalam penggunaannya antara negara-negara atau daerah. Dalam pengelolaan sampah antara indonesia dengan australiapun sudah berbeda caranya. Australia pengelolaan sampahnya dibagi antara sampah organik dan anorganik, tempat pembuangannyapun sudah ditempatkan sendiri-sendiri agar tidak tercampur satu sama lain. Indonesia sempat menirukan cara tersebut, namun kini masih belum berhasil secara sempurna dalam pelaksanaannya, karena masyarakatnya belum sadar bahwa lingkungan yang sehat adalah lingkungan yang bersih dari sampah. Dengan memisahkan antara sampah organik dengan sampah anorganik masyarakat lebih mudah memanfaatkan sampah untuk diolah kembali menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi. Beberapa konsep umum yang digunakan dalam pengolahan sampah adalah:
a.    Hirarki Sampah
hirarki limbah merujuk kepada " 3 M " mengurangi sampah, menggunakan kembali sampah dan mendaur ulang, yang mengklasifikasikan strategi pengelolaan sampah sesuai dengan keinginan dari segi minimalisasi sampah. Hirarki limbah yang tetap menjadi dasar dari sebagian besar strategi minimalisasi sampah. Tujuan limbah hirarki adalah untuk mengambil keuntungan maksimum dari produk-produk praktis dan untuk menghasilkan jumlah minimum limbah.
b.    Perpanjangan tanggungjawab penghasil sampah/Extended Producer Responsibility (EPR).
EPR adalah suatu strategi yang dirancang untuk mempromosikan integrasi semua biaya yang berkaitan dengan produk-produk mereka di seluruh siklus hidup (termasuk akhir-of-pembuangan biaya hidup) ke dalam pasar harga produk. Tanggung jawab produser diperpanjang dimaksudkan untuk menentukan akuntabilitas atas seluruh Lifecycle produk dan kemasan diperkenalkan ke pasar. Ini berarti perusahaan yang manufaktur, impor dan/atau menjual produk diminta untuk bertanggung jawab atas produk mereka berguna setelah kehidupan serta selama manufaktur.
c)     Prinsip pengotor membayar
Prinsip pengotor membayar adalah prinsip dimana pihak pencemar membayar dampak akibatnya ke lingkungan. Sehubungan dengan pengelolaan limbah, ini umumnya merujuk kepada penghasil sampah untuk membayar sesuai dari pembuangan. Prinsip ini ditujukan supaya penghasil sampah bisa bertanggungjawab untuk selalu bisa menjaga lingkungan. Dengan dana yang dikeluarkan pengotor, masyarakat bisa menggunakannya untuk pengelolaan limbah yang dihasilkan. Seperti pengadaan alat penetralisir limbah, supaya tidak langsung dibuang ke laut. Pemerintah harus bisa mensosialisasikan pada setiap instansi masyarakat agar masyarakat dapat merealisasikan program yang telah direncanakan. Program ini merupakan program yang berkelanjutan dimana program ini dilaksanakan secara bertahap dimulai dari lingkungan keluarga, masyarakat, dan lingkungan sosial lainnya.

Pembahasan
Sebagian besar penduduk di dunia memanfaatkan  plastik dalam menjalankan aktivitasnya. Berdasarkan data Environmental Protection Agency (EPA) Amerika Serikat, pada tahun 2001, penduduk Amerika Serikat menggunakan sedikitnya 25 juta ton plastik setiap tahunnya. Belum ditambah pengguna plastik di negara lainnya. Bukan suatu yang mengherankan jika plastik banyak digunakan. Plastik memiliki banyak kelebihan dibandingkan bahan lainnya. Secara umum, plastik memiliki densitas yang rendah, bersifat isolasi terhadap listrik, mempunyai kekuatan mekanik yang bervariasi, ketahanan suhu terbatas, serta ketahanan bahan kimia yang bervariasi. Selain itu, plastik juga ringan, mudah dalam perancangan, dan biaya pembuatan murah.
Namun, dibalik segala kelebihannya, limbah plastik menimbulkan masalah bagi lingkungan. Penyebabnya tak lain sifat plastik yang tidak dapat diuraikan dalam tanah. Untuk mengatasinya, para pakar lingkungan dan ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu telah melakukan berbagai penelitian dan tindakan. Salah satunya dengan cara mendaur ulang limbah plastik. Namun, cara ini tidaklah terlalu efektif. Hanya sekitar 4% yang dapat didaur ulang, sisanya menggunung di tempat penampungan sampah.  Masalah itulah yang mendasari Miller dan rekan-rekannya melakukan penelitian ini. Sebagian besar plastik yang digunakan masyarakat merupakan jenis plastik polietilena. Ada dua jenis polietilena, yaitu high density polyethylene (HDPE) dan low density polyethylene (LDPE). HDPE banyak digunakan sebagai botol plastik minuman, sedangkan LDPE untuk kantong plastik. Dalam penelitiannya yang akan dipublikasikan dalam Jurnal American Chemical Society bagian Energi dan Bahan Bakar (Energy and Fuel) edisi 20 Juli 2005, Miller memanaskan polietilena menggunakan metode pirolisis, lalu menyelidiki zat hasil pemanasan tersebut.
Ternyata, ketika polietilena dipanaskan akan terbentuk suatu senyawa hidrokarbon cair. Senyawa ini mempunyai bentuk mirip lilin (wax). Banyaknya plastik yang terurai adalah sekitar 60%, suatu jumlah yang cukup banyak. Struktur kimia yang dimiliki senyawa hidrokarbon cair mirip lilin ini memungkinkannya untuk diolah menjadi minyak pelumas berkualitas tinggi. Sekadar informasi, minyak pelumas yang saat ini beredar di pasaran berasal dari pengolahan minyak bumi. Minyak mentah (crude oil) hasil pengeboran minyak bumi di dasar bumi mengandung berbagai senyawa hidrokarbon dengan titik didih yang berbeda-beda. Kemudian, berbagai senyawa hidrokarbon yang terkandung dalam minyak mentah ini dipisahkan menggunakan teknik distilasi bertingkat (penyulingan) berdasarkan perbedaan titik didihnya. Selain bahan bakar, seperti bensin, solar, dan minyak tanah, penyulingan minyak mentah juga menghasilkan minyak pelumas. Sifat kimia senyawa hidrokarbon cair dari hasil pemanasan limbah plastik mirip dengan senyawa hidrokarbon yang terkandung dalam minyak mentah sehingga dapat diolah menjadi minyak pelumas. Pengubahan hidrokarbon cair hasil pirolisis limbah plastik menjadi minyak pelumas menggunakan metode hidroisomerisasi. Miller berharap minyak pelumas buatan ini dapat digunakan untuk kendaraan bermotor dengan kualitas yang sama dengan minyak bumi hasil penyulingan minyak mentah, ramah lingkungan, sekaligus ekonomis.
Sebenarnya, usaha pembuatan minyak sintetis dari senyawa hidrokarbon cair ini bukan suatu hal baru. Pada awal 1990-an, perusahaan Chevron telah mencoba mengubah senyawa hidrokarbon cair menjadi bahan bakar sintetis untuk tujuan komersial. Hanya saja bahan baku yang digunakan untuk menghasilkan senyawa hidrokarbon cair berasal dari gas alam (umumnya gas metana) melalui proses katalitik yang dikenal dengan nama proses Fischer-Tropsch. Pada proses Fischer-Tropsch ini, gas metana diubah menjadi gas sintesis (syngas), yaitu campuran antara gas hidrogen dan karbon monoksida, dengan bantuan besi atau kobalt sebagai katalis. Selanjutnya, syngas ini diubah menjadi senyawa hidrokarbon cair, untuk kemudian diolah menggunakan proses hydrocracking menjadi bahan bakar dan produk minyak bumi lainnya, termasuk minyak pelumas. Senyawa hidrokarbon cair hasil pengubahan dari syngas mempunyai sifat kimia yang sama dengan polietilena. Belakangan, daerah lepas laut Timur Tengah menjadi sumber gas alam karena disana harga gas alam lebih murah. Minyak pelumas dari gas alam ini untuk sementara dapat menjadi alternatif minyak pelumas hasil pengolahan minyak bumi. Pada masa mendatang, cadangan gas alam di dunia diperkirakan akan segera menipis. Dilain pihak, kebutuhan akan minyak pelumas semakin tinggi. Kini, dengan adanya penemuan ini, pembuatan minyak pelumas nampaknya tidak lagi memerlukan gas alam. Cukup dengan memanfaatkan limbah botol plastik, jadilah minyak pelumas. Hal ini sangat menguntungkan bagi kehidupan manusia dimana manusia bukan hanya selalu bergantung pada gas alam, namun dengan langkah awal menuju masa depan, manusia dapat mempelajari penemuan botol bekas menjadi minyak pelumas ini agar pengetahuan manusia tidak terbatas dan mampu mengimbangi kemajuan dan perkembangan zaman guna memakmuran kehidupan masyarakat di masa yang akan datang. Jika hasil dari penemuan ini semakin meningkat, maka diharapkan minyak pelumas yang terbuat dari botol plastik bekas ini dapat digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor, hal itu tentunya sangat menguntungkan dan kita tidak lagi mengandalkan gas alam.









Kesimpulan
Sampah merupakan suatu bahan yang dibuang atau  terbuang sebagai hasil dari aktifitas alam yang tidak/belum memiliki nilai ekonomis. Untuk dapat bernilai ekonomis, sampah tidak harus dibuang, sampah juga dapat dimanfaatkan sebagai sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Seperti plastik bekas yang sangat berpengaruh bagi kehidupan manusia jika dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Plastik bekas disini pemanfaatannya lebih dispesifikan menjadi minyak pelumas. Hal ini merupakan sebuah penemuan sangat menakjubkan dan berpengaruh untuk masa depan. Dengan pembuatan minyak pelumas menggunakan plastik bekas, gas alam tidak lagi menjadi bahan pokok, dan sangat membantu kebutuhan manusia akan penggunaan minyak pelumas yang semakin tinggi dan cadangan gas alam di dunia yang semakin menipis. Sampah botol dapat merusak keseimbangan lingkungan dan menyebabkan pemansan global, pemanfaatan menjadi minyak pelumas sangat berguna sehingga perlu disosialisasikan secara merata pada seluruh instansi pemerintah dan warga masyarakat.










Daftar Pustaka
Hardanie Budiyanti Dwi , 2005. “Minyak Pelumas dari Botol Plastik Bekas”. (Online)                                     diakses  tanggal 8 Desember 2011. www.Budiyanti.com



Tidak ada komentar: