Selasa, 18 Desember 2012

sinopsis


TUGAS BAHASA INDONESIA

1.      Judul Karya Sastra
“Ziarah”
2.      Pengarang
Iwan Simatupang
3.      Biografi Pengarang dan Hasil Karyanya
a.    Biografi
Iwan Simatupang adalah Sastrawan tahun 1960-an yang menulis karya Inkonvensional sebagai pertanda angin baru dalam kesusastraan Indonesia. Iwan Simatupang lahir di Sibolga, 18 Januari 1928 dengan nama Iwan Martua Dongan Simatupang. Ia meninggal 4 Agustus 1970 di Jakarta. Ia pernah mengikuti kuliah di Fakultas Kedokteran di Surabaya, memperdalam antropologi dan drama di Belanda, serta belajar filsafat di Paris. Ia adalah wartawan siasat dan pernah menjadi redaktur warta harian. Tulisan-tulisannya dimuat di majalah Siasat dan Mimbar Indonesia mulai tahun 1952.
b.         Hasil Karya
-        Bulan Bujur sangkar (1960)
-        Petang di Taman (1966)
-        RT nol/RW nol (1968)
-        Merahnya merah (1968)
-        Ziarah (1969)
-        Kering s(1972)
-        Koong (1975)



4.      Latar Belakang Karya Sastra
Latar belakang karya Sastra yang berjudul “Ziarah” karya Iwan Simatupang yaitu di sebuah negeri yang bernama Kotapraja, terdapat seorang pelukis terkenal di seluruh negeri yang dibuat terkapar tidak berdaya alias shock dan trauma setelah ditinggal mati istrinya yang sangat dia cintai, istri yang dia kawini dalam perkawinan secara tiba-tiba. Suatu ketika Pelukis mencoba bunuh diri karena ketenaran karya lukisnya yang memikat semua orang dijagat bumi ini yang mengakibatkan ia memiliki banyak uang dan membuat dia bingung. Karena kebingungannya ini sang Pelukis berniat bunuh diri dari lantai hotel dan ketika terjun dia menimpa seorang gadis cantik. Dan tanpa diduga pula sang pelukis langsung mengadakan hubungan jasmani dengan si gadis diatas jalan raya. Hal ini membuat orang-orang histeris dan akhirnya seorang brigadir polisi membawa mereka ke kantor catatan sipil dan mengawinkan mereka. Pelukis merasa benar-benar kehilangan terutama saat dia tahu bahwa istrinya mati, Pelukis pun langsung pergi ke kantor sipil guna mengurusi penguburan istrinya tetapi tak ada tanggapan positif dari pengusaha penguburan. Itu terjadi karena Pelukis tak tahu apa-apa tentang istrinya. Yang dia tahu hanyalah kecintaannya pada istrinya. Sehingga mayat istrinya terkatung-katung karena tak memiliki surat penguburan yang syah.
5.      Sejarah Karya Sastra
Karya sastra Iwan Simatupang tahun 1960, 'Ziarah', merupakan karya sastra yang menarik dan berbeda dibandingkan dengan karya sastra Indonesia lainnya. Ziarah banyak mendapat kritik dari para pakar sastra karena isi ceritanya melibatkan budaya Barat dan menganggap Iwan Simatupang sebagai pengarang borjuis. Dalam penerbitannya, Ziarah mengalami kesulitan hingga akhirnya Ziarah dapat diterbitkan pada tahun 1969 berkat surat rekomendasi yang dikirim oleh HB. Jassin dan Bangun Siagian ke penerbit. Permasalahan dalam penelitian ini adalah di mana letak daya tarik karya Iwan Simatupang dalam Ziarah dan pengetahuan apa yang harus dimiliki oleh pembacanya agar mereka dapat memahami karyanya? Penelitian ini bertujuan mengungkapkan makna Ziarah. Makna Ziarah dapat diketahui dengan menelusuri komunikasi antarbudaya yang terdapat dalam karyanya berdasarkan landasan pemikiran.
6.      Waktu Tercipta
Karya Sastra yang berjudul “Ziarah”dapat diterbikan pada tahun 1969.

Unsur Instrinsik Novel
a.      Tema
Ziarah Kubur
b.      Tokoh
Utama             : Pelukis, Istri Pelukis, Opseter Perkuburan
Antagonis        : Istri
Protagonis       : Pelukis
Tritagonis        : Opseter Pekuburan, Maha Guru Opseter
Pembantu                    : Walikota, Wakil Walikota, Maha Guru Opseter,Ayah
Opseter, Orang Buta Profesional, Kepala Negara, Perdana Menteri, Nona-nona Tua, Brigadir Polisi, Mandor dan Pegawai Perkuburan, Kepala Dinas
Pekerjaan Umum, Official, Centeng Perkuburan.
c.       Alur
Alur dalam novel ini memang sedikit membingungkan pembaca,
pengarang sengaja menggunakan alur “Flash Back” karena cerita diawal novel bukanlah awal cerita, melainkan awal cerita baru diceritakan dibagian berikut dalam novel.Alias pembaca diajak ke waktu sebelumnya oleh pengarang dengan sentuhan filsafat yang amat menarik dan berkesinambungan.Ini jelas terlihat diawal novel saat disebutkan sang pelukis begitu kehilangan setelah ditinggal mati istrinya, tetapi dibagian belakang pembaca diajak untuk mengikuti kisah pertemuan pelukis dengan istri,kehidupan mereka yang mengundang banyak pesona,dan saat-saat terakhir istrinya mati. Bukan hanya pelukis dan istri saja, tetapi pengarang juga mengajak pembaca untuk mengikuti kisah balik kehidupan Opseter sebelum menjadi Opseter.
d.      Sudut pandang
Orang ketiga (Dia,nya).
e.       Setting/Tempat
Di Tikungan                            : Disalah satu tikungan.
Rumah Kecil                           : Disatu rumah kecil.
Di Kakilima                             : Langkah-langkahnya di kakilima.
Di Kedai Arak                                    : Sekencang-kencangnya ke kedai arak.
Di Perkuburan                         : Suasana pekuburan di tengah hari.
Di Rumah Dinas Opseter        : Jendela rumah dinasnya.
Kantor Dinas Walikota           : Sidang darurat badan pekerja harian.
Di Alun-alun Kota                  : Orang-orang dialun-alun ikut.
Di Istana Negara                     : Kabinet kepada parlemen.
Di lintasan Lari                       : Bertulisan benar-benar finish.
Di Hotel                                  : Kamarnya ditingkat empat hotel itu.
Di Aspal Jalan Raya                : Yang sedang asyik diatas aspal panas.
Di Kantor Catatan Sipil          : Eh catatan sipil, supaya hal yang.
Di Gubuk Tepi Pantai             : Gegubuk yang masih utuh di pantai.
Rumah Nyonya Tua                : Rumah kami dilalui serdadu-serdadu.
LPAYLITK                            : Lembaga Pemeliharaan Anak-anak Yang
  Lahir dari Ibu Yang Tidak Kawin.
LPWTYS                                : Lembaga Pemeliharaan Wanita-wanita Tua
  Yang Sendiri.
Balai kota                                : Ke Balai Kota.
f.       Waktu
Pagi hari:
-          Saya minum arak sepagi ini.
-          paginya dia selalu gembira.
-          esoknya pagi-pagi benar kepala.
Tengah hari:
-          persis tengah hari mereka.
-          lepas sedikit tengah hari.
Sore hari/senja:
-          menjelang benamnya matahari dia.
-          matahari segera akan tenggelam.
Malam hari:
-          begitu malam jatuh perutnya.
-          persis jam 12 tadi malam.
-          kepanas makanan malamnya.
g.      Suasana
Gembira          : Menggegar suatu tawa gempita.
Sunyi               : Sunyi senyap di pekuburan itu.
Takut               : Bukan sorak sorai!tapi teriakan.
Ramai              : Ketengah orang ramai itu.
Panic               : Hadirin geger.
Kacau              : Mandor melihat opseter keluar rumah.
Gelisah            : Dia mulai gelisah.dia melihat.
Hening                        : Sesudah itu hening sehening-heningnya.
Sedih               : Demi satu titik membasah dimatanya.
h.      Karakteristik
             Ceritanya sangat menarik, sentuhan filsafat pengarang benar-benar tersaji dalam novel ini. Tak kurang dalam setiap bagian novel terdapat kalimat-kalimat yang merupakan ilmu filsafat. Contoh kalimat itu seperti “Balas dendam memerlukan persiapan, pemikiran, memerlukan sistem filsafat tersendiri yang merentangkan isi, tujuan, faedah, dan dalih balas dendam itu nanti kepada dirinya sendiri, kepada anak cucunya dan apabila masih ada juga umat manusia dan kemanusiaan sesudah kurun sejarah kini, juga kepada umat manusia dan kemanusiaan yang akan datang”. Juga dalam kalimat selanjutnya, filsafat murni hanya didapat pada suasana disebelah dalam dari tembok-tembok itu. Gaya humor pengarang juga samar-samar, pembaca harus benar-benar mengerti maksud pengarang dulu sebelum dibuat tertawa membayangkan bahwa itu sangat lucu. Ada beberapa bagian dalam novel yang bisa dikatakan sebagai penunjuk bahwa pengarang memiliki daya humor yang cukup tinggi. Seperti saat ketika opseter dan walikota saling melihat bola mata. Dan saling terkejut dan saling berteriak. Tentu saja mengundang tawa bagi pelukis yang menyaksikannya. Juga saat menceritakan kisah ketenaran pelukis, yang justru membuat dia hampir bunuh diri sebelum akhirnya mengawini seorang gadis. Dalam menghadirkan sebuah masalah pengarang tidak sungkan untuk mendramatisir, tapi endingnya juga sangat mengagumkan. Karena dengan penambahan cerita yang didramatisir itu justru semakin membuat semangat pembaca. Ini terlihat saat menceritakan kematian walikota setelah gemetar mendengar kata-kata proporsi dari opseter dan saat sang istri kehilangan gigi, yang dibuat begitu terasa dihati pembaca.
i.        Amanat
1.      Jangan suka menambah penderitaan orang lain, karena itu akan menambah penderitaanmu.
2.      Kesedihan tidak harus selalu ditangisi terus-menerus, akan tetapi kesedihan haruslah diawali dengan kebahagiaan.
3.      Jangan sewenang-wenang menyalahkan seseorang, tanpa adanya bukti yang pasti.
4.      Jalanilah kehidupan ini dengan kesederhanaan jiwa, jangan hanya memikirkan diri sendiri, sebab itu akan merendahkan harkat dan martabatmu.
j.        Sinopsis Novel
Novel Ziarah karya Iwan Simatupang adalah novel yang menceritakan seorang pelukis terkenal seluruh negeri yang dibuat terkapar tidak berdaya dan trauma setelah ditinggal mati istrinya yang sangat dia cintai. Istri yang dia kawini dalam perkawinan secara tiba-tiba. Suatu ketika pelukis mencoba bunuh diri karena ketenaran karya lukisnya yang memikat semua orang dijagat bumi ini mengakibatkan ia memiliki banyak uang dan membuat dia bingung. Karena kebingungannya ini sang pelukis berniat bunuh diri dari lantai hotel dan ketika terjun dia menimpa seorang gadis cantik. Dan tanpa diduga pula sang pelukis langsung mengadakan hubungan jasmani dengan si gadis diatas jalan raya. Hal ini membuat orang-orang histeris dan akhirnya seorang brigadier polisi membawa mereka ke kantor catatan sipil dan mengawinkan mereka. Hidup bahagia bersama sang istri membuat pelukis benar-benar kehilangan. Apalagi setelah dia tahu bahwa istrinya mati karena telah melihat ibu kandung ada bersama gerombolan nona-nona tua yang menyaksikan kebahagiaan mereka saat hidup dalam gubuk tepi laut. Pelukis pun langsung pergi kekantor sipil guna mengurusi penguburan istrinya tetapi tak ada tanggapan positif dari pengusaha penguburan. Itu terjadi karena pelukis tak tahu apa-apa tentang istrinya. Yang dia tahu hanyalah kecintaan pada istrinya. Sehingga mayat istrinya terkatung-katung karena tak memiliki surat penguburan yang sah. Pelukis pun menghilang ketika dicari walikota (merupakan walikota kedua dalam novel ini, dia adalah wakil walikota yang diangkat menjadi walikota setelah walikota pertama gantung diri karena tak bisa memecahkan masalah mengundang pelukis saat akan ada kunjungan tamu asing) yang ikut menghadiri penguburan istri pelukis. Sampai akhirnya pengusaha penguburan itu menyesali perbuatannya dan dengan keputusan walikota akhirnya mayat istri pelukis dikuburkan. Sampai penguburan usai pelukis tak kelihatan. Saat kembali ke gubuknya dia melihat wanita tua kecil. Tak tahu itu siapa, ternyata adalah ibu kandung dari si gadis. Bercerita panjang tentang masa lalunya yang suram dan sampai saat terakhir dia bertatapan dengan anaknya yang justru membuat delima bagi si anak. Lalu pergi sambil menagis. Dan sesaat kemudian pelukis ada dalam gubuknya, memandangi keadaan sekitar yang penuh karangan bunga, membakarnya sampai habis. Hingga tersisa beberapa yang ia bawa ke kuburan istrinya. Ia titipkan karangan bunga pada centeng perkuburan. Ziarah tanpa melihat makam istrinya. Setelah itu hidup pelukis semakin tak tentu arah. Ia seolah tak pernah percaya bahwa istrinya telah mati. Pagi harinya hanya digunakan untuk menunggu istrinya ditikungan entah tikungan mana dan malam harinya dituangkan arak keperutnya, memanggil Tuhannya, meneriakkan nama istrinya, menangis dan kemudian tertawa keras-keras. Hingga akhirnya datang opseter perkuburan yang meminta dia mengapur tembok perkuburan kotapraja yang sebelumnya telah berbekas pamplet-pamplet polisi bahwa dia dicari.
Pelukis menerima tawaran itu dan esoknya ia mulai bekerja mengapur tembok perkuburan kotapraja itu 5 jam berturut-turut tiap harinya, sedangkan opseter perkuburan mengintip dari rumah dinasnya. Pekerjaan baru pelukis ini membawa perubahan tingkah laku pelukis sehingga membuat seluruh negeri geger. Hingga walikota akan memberhentikan Opseter perkuburan. Tetapi ketika mengantar surat pemberhentian kerja itu, walikota malah mati sendiri karena kata-kata Opseter tentang proporsi. Sebelumnya juga pernah terjadi kekacauan dinegeri karena Opseter perkuburan memakai rasionalisme dalam kerjanya dan hanya memberi instruksi kerja pada selembar kertas pada pegawainya. Setelah beberapa hari pelukis mengapur tembok perkuburan pada suatau hari dia bergegas pulang sebelum 5 jam berturut-turut. Opseter perkuburan heran kemudian mendatanginya dan ternyata pelukis ingin berhenti bekerja.Opseter kebingungan tetapi pelukis menjelaskan bahwa dia tahu maksud Opseter memperkerjakannya. Bahwa selain untuk kepentingan Opseter sendiri, Opseter ingin pelukis menziarahi istrinya yang sudah tiada itu. Keesokan harinya Opseter ditemukan gantung diri. Perkuburan geger, tetapi hanya sedikit sekali empati dari pegawai-pegawai perkuburan. Maklum mereka hanya mengenal Opseter lewat instruksi kerjanya saja tanpa pernah bertemu dan mengenalnya. Penguburan Opseter berlangsung cepat. Setelah penguburan, pelukis bertemu Maha guru dari Opseter yang kemudian menceritakan riwayat Opseter. Diakhir cerita, pelukis akhirnya pergi ke balai kota melamar menjadi Opseter Perkuburan. Untuk Ziarah yang terus-menerus pada mayat-mayat manusia, pada mayat istrinya.

Tidak ada komentar: