TUGAS
BAHASA INDONESIA
1.
Judul
Karya Sastra
“Ziarah”
2.
Pengarang
Iwan
Simatupang
3.
Biografi
Pengarang dan Hasil Karyanya
a.
Biografi
Iwan
Simatupang adalah Sastrawan tahun 1960-an yang menulis karya Inkonvensional
sebagai pertanda angin baru dalam kesusastraan Indonesia. Iwan Simatupang lahir
di Sibolga, 18 Januari 1928 dengan nama Iwan Martua Dongan Simatupang. Ia meninggal 4 Agustus 1970 di Jakarta. Ia pernah mengikuti kuliah di
Fakultas Kedokteran di Surabaya, memperdalam antropologi dan drama di Belanda,
serta belajar filsafat di Paris. Ia adalah
wartawan siasat dan pernah menjadi redaktur warta harian. Tulisan-tulisannya
dimuat di majalah Siasat dan Mimbar Indonesia mulai tahun 1952.
b.
Hasil Karya
-
Bulan Bujur sangkar
(1960)
-
Petang di Taman (1966)
-
RT nol/RW nol (1968)
-
Merahnya merah (1968)
-
Ziarah (1969)
-
Kering s(1972)
-
Koong (1975)
4.
Latar
Belakang Karya Sastra
Latar
belakang karya Sastra yang berjudul “Ziarah” karya Iwan Simatupang yaitu di
sebuah negeri yang bernama Kotapraja, terdapat seorang pelukis terkenal di
seluruh negeri yang dibuat terkapar tidak berdaya alias shock dan trauma
setelah ditinggal mati istrinya yang sangat dia cintai, istri yang dia kawini
dalam perkawinan secara tiba-tiba. Suatu ketika Pelukis mencoba bunuh diri
karena ketenaran karya lukisnya yang memikat semua orang dijagat bumi ini yang
mengakibatkan ia memiliki banyak uang dan membuat dia bingung. Karena
kebingungannya ini sang Pelukis berniat bunuh diri dari lantai hotel dan ketika
terjun dia menimpa seorang gadis cantik. Dan tanpa diduga pula sang pelukis
langsung mengadakan hubungan jasmani dengan si gadis diatas jalan raya. Hal ini
membuat orang-orang histeris dan akhirnya seorang brigadir polisi membawa
mereka ke kantor catatan sipil dan mengawinkan mereka. Pelukis merasa benar-benar
kehilangan terutama saat dia tahu bahwa istrinya mati, Pelukis pun langsung
pergi ke kantor sipil guna mengurusi penguburan istrinya tetapi tak ada
tanggapan positif dari pengusaha penguburan. Itu terjadi karena Pelukis tak
tahu apa-apa tentang istrinya. Yang dia tahu hanyalah kecintaannya pada
istrinya. Sehingga mayat istrinya terkatung-katung karena tak memiliki surat
penguburan yang syah.
5.
Sejarah
Karya Sastra
Karya
sastra Iwan Simatupang tahun 1960, 'Ziarah', merupakan karya sastra yang
menarik dan berbeda dibandingkan dengan karya sastra Indonesia lainnya. Ziarah
banyak mendapat kritik dari para pakar sastra karena isi ceritanya melibatkan
budaya Barat dan menganggap Iwan Simatupang sebagai pengarang borjuis. Dalam
penerbitannya, Ziarah mengalami kesulitan hingga akhirnya Ziarah dapat
diterbitkan pada tahun 1969 berkat surat rekomendasi yang dikirim oleh HB.
Jassin dan Bangun Siagian ke penerbit. Permasalahan dalam penelitian ini adalah
di mana letak daya tarik karya Iwan Simatupang dalam Ziarah dan pengetahuan apa
yang harus dimiliki oleh pembacanya agar mereka dapat memahami karyanya?
Penelitian ini bertujuan mengungkapkan makna Ziarah. Makna Ziarah dapat
diketahui dengan menelusuri komunikasi antarbudaya yang terdapat dalam karyanya
berdasarkan landasan pemikiran.
6.
Waktu
Tercipta
Karya
Sastra yang berjudul “Ziarah”dapat diterbikan pada tahun 1969.
Unsur Instrinsik Novel
a. Tema
Ziarah Kubur
b. Tokoh
Utama : Pelukis, Istri Pelukis, Opseter Perkuburan
Antagonis : Istri
Protagonis : Pelukis
Tritagonis : Opseter Pekuburan, Maha Guru Opseter
Pembantu : Walikota, Wakil Walikota,
Maha Guru Opseter,Ayah
Opseter, Orang Buta Profesional, Kepala Negara, Perdana Menteri, Nona-nona
Tua, Brigadir Polisi, Mandor dan Pegawai Perkuburan, Kepala Dinas
Pekerjaan Umum, Official, Centeng Perkuburan.
c. Alur
Alur
dalam novel ini memang sedikit membingungkan pembaca,
pengarang sengaja menggunakan alur “Flash Back” karena cerita diawal novel bukanlah awal cerita, melainkan awal cerita baru diceritakan dibagian berikut dalam novel.Alias pembaca diajak ke waktu sebelumnya oleh pengarang dengan sentuhan filsafat yang amat menarik dan berkesinambungan.Ini jelas terlihat diawal novel saat disebutkan sang pelukis begitu kehilangan setelah ditinggal mati istrinya, tetapi dibagian belakang pembaca diajak untuk mengikuti kisah pertemuan pelukis dengan istri,kehidupan mereka yang mengundang banyak pesona,dan saat-saat terakhir istrinya mati. Bukan hanya pelukis dan istri saja, tetapi pengarang juga mengajak pembaca untuk mengikuti kisah balik kehidupan Opseter sebelum menjadi Opseter.
pengarang sengaja menggunakan alur “Flash Back” karena cerita diawal novel bukanlah awal cerita, melainkan awal cerita baru diceritakan dibagian berikut dalam novel.Alias pembaca diajak ke waktu sebelumnya oleh pengarang dengan sentuhan filsafat yang amat menarik dan berkesinambungan.Ini jelas terlihat diawal novel saat disebutkan sang pelukis begitu kehilangan setelah ditinggal mati istrinya, tetapi dibagian belakang pembaca diajak untuk mengikuti kisah pertemuan pelukis dengan istri,kehidupan mereka yang mengundang banyak pesona,dan saat-saat terakhir istrinya mati. Bukan hanya pelukis dan istri saja, tetapi pengarang juga mengajak pembaca untuk mengikuti kisah balik kehidupan Opseter sebelum menjadi Opseter.
d. Sudut pandang
Orang ketiga (Dia,nya).
e. Setting/Tempat
Di Tikungan :
Disalah satu tikungan.
Rumah Kecil :
Disatu rumah kecil.
Di Kakilima : Langkah-langkahnya di
kakilima.
Di Kedai Arak : Sekencang-kencangnya ke kedai arak.
Di Perkuburan :
Suasana pekuburan di tengah hari.
Di Rumah Dinas Opseter : Jendela rumah dinasnya.
Kantor Dinas Walikota : Sidang darurat badan pekerja
harian.
Di Alun-alun Kota :
Orang-orang dialun-alun ikut.
Di Istana Negara :
Kabinet kepada parlemen.
Di lintasan Lari : Bertulisan benar-benar
finish.
Di Hotel : Kamarnya ditingkat empat hotel itu.
Di Aspal Jalan Raya :
Yang sedang asyik diatas aspal panas.
Di Kantor Catatan Sipil : Eh catatan sipil, supaya hal yang.
Di Gubuk Tepi Pantai : Gegubuk yang masih utuh di
pantai.
Rumah Nyonya Tua :
Rumah kami dilalui serdadu-serdadu.
LPAYLITK : Lembaga
Pemeliharaan Anak-anak Yang
Lahir dari Ibu Yang Tidak Kawin.
LPWTYS : Lembaga Pemeliharaan Wanita-wanita Tua
Yang Sendiri.
Balai kota : Ke Balai Kota.
f. Waktu
Pagi hari:
-
Saya minum arak sepagi ini.
-
paginya dia selalu gembira.
-
esoknya pagi-pagi benar kepala.
Tengah hari:
-
persis tengah hari mereka.
-
lepas sedikit tengah hari.
Sore
hari/senja:
-
menjelang benamnya matahari dia.
-
matahari segera akan tenggelam.
Malam hari:
-
begitu malam jatuh perutnya.
-
persis jam 12 tadi malam.
-
kepanas makanan malamnya.
g. Suasana
Gembira : Menggegar suatu tawa gempita.
Sunyi : Sunyi senyap di pekuburan itu.
Takut : Bukan sorak sorai!tapi
teriakan.
Ramai : Ketengah orang ramai itu.
Panic : Hadirin geger.
Kacau : Mandor melihat opseter keluar
rumah.
Gelisah : Dia mulai gelisah.dia melihat.
Hening :
Sesudah itu hening sehening-heningnya.
Sedih : Demi satu titik membasah
dimatanya.
h. Karakteristik
Ceritanya sangat menarik, sentuhan filsafat pengarang benar-benar tersaji dalam novel ini. Tak kurang dalam setiap bagian novel terdapat kalimat-kalimat yang merupakan ilmu filsafat. Contoh kalimat itu seperti “Balas dendam memerlukan persiapan, pemikiran, memerlukan sistem filsafat tersendiri yang merentangkan isi, tujuan, faedah, dan dalih balas dendam itu nanti kepada dirinya sendiri, kepada anak cucunya dan apabila masih ada juga umat manusia dan kemanusiaan sesudah kurun sejarah kini, juga kepada umat manusia dan kemanusiaan yang akan datang”. Juga dalam kalimat selanjutnya, filsafat murni hanya didapat pada suasana disebelah dalam dari tembok-tembok itu. Gaya humor pengarang juga samar-samar, pembaca harus benar-benar mengerti maksud pengarang dulu sebelum dibuat tertawa membayangkan bahwa itu sangat lucu. Ada beberapa bagian dalam novel yang bisa dikatakan sebagai penunjuk bahwa pengarang memiliki daya humor yang cukup tinggi. Seperti saat ketika opseter dan walikota saling melihat bola mata. Dan saling terkejut dan saling berteriak. Tentu saja mengundang tawa bagi pelukis yang menyaksikannya. Juga saat menceritakan kisah ketenaran pelukis, yang justru membuat dia hampir bunuh diri sebelum akhirnya mengawini seorang gadis. Dalam menghadirkan sebuah masalah pengarang tidak sungkan untuk mendramatisir, tapi endingnya juga sangat mengagumkan. Karena dengan penambahan cerita yang didramatisir itu justru semakin membuat semangat pembaca. Ini terlihat saat menceritakan kematian walikota setelah gemetar mendengar kata-kata proporsi dari opseter dan saat sang istri kehilangan gigi, yang dibuat begitu terasa dihati pembaca.
Ceritanya sangat menarik, sentuhan filsafat pengarang benar-benar tersaji dalam novel ini. Tak kurang dalam setiap bagian novel terdapat kalimat-kalimat yang merupakan ilmu filsafat. Contoh kalimat itu seperti “Balas dendam memerlukan persiapan, pemikiran, memerlukan sistem filsafat tersendiri yang merentangkan isi, tujuan, faedah, dan dalih balas dendam itu nanti kepada dirinya sendiri, kepada anak cucunya dan apabila masih ada juga umat manusia dan kemanusiaan sesudah kurun sejarah kini, juga kepada umat manusia dan kemanusiaan yang akan datang”. Juga dalam kalimat selanjutnya, filsafat murni hanya didapat pada suasana disebelah dalam dari tembok-tembok itu. Gaya humor pengarang juga samar-samar, pembaca harus benar-benar mengerti maksud pengarang dulu sebelum dibuat tertawa membayangkan bahwa itu sangat lucu. Ada beberapa bagian dalam novel yang bisa dikatakan sebagai penunjuk bahwa pengarang memiliki daya humor yang cukup tinggi. Seperti saat ketika opseter dan walikota saling melihat bola mata. Dan saling terkejut dan saling berteriak. Tentu saja mengundang tawa bagi pelukis yang menyaksikannya. Juga saat menceritakan kisah ketenaran pelukis, yang justru membuat dia hampir bunuh diri sebelum akhirnya mengawini seorang gadis. Dalam menghadirkan sebuah masalah pengarang tidak sungkan untuk mendramatisir, tapi endingnya juga sangat mengagumkan. Karena dengan penambahan cerita yang didramatisir itu justru semakin membuat semangat pembaca. Ini terlihat saat menceritakan kematian walikota setelah gemetar mendengar kata-kata proporsi dari opseter dan saat sang istri kehilangan gigi, yang dibuat begitu terasa dihati pembaca.
i.
Amanat
1. Jangan
suka menambah penderitaan orang lain, karena itu akan menambah penderitaanmu.
2. Kesedihan
tidak harus selalu ditangisi terus-menerus, akan tetapi kesedihan haruslah
diawali dengan kebahagiaan.
3. Jangan
sewenang-wenang menyalahkan seseorang, tanpa adanya bukti yang pasti.
4. Jalanilah
kehidupan ini dengan kesederhanaan jiwa, jangan hanya memikirkan diri sendiri,
sebab itu akan merendahkan harkat dan martabatmu.
j.
Sinopsis Novel
Novel
Ziarah karya Iwan Simatupang adalah novel yang menceritakan seorang pelukis
terkenal seluruh negeri yang dibuat terkapar tidak berdaya dan trauma setelah
ditinggal mati istrinya yang sangat dia cintai. Istri yang dia kawini dalam
perkawinan secara tiba-tiba. Suatu ketika pelukis mencoba bunuh diri karena
ketenaran karya lukisnya yang memikat semua orang dijagat bumi ini
mengakibatkan ia memiliki banyak uang dan membuat dia bingung. Karena
kebingungannya ini sang pelukis berniat bunuh diri dari lantai hotel dan ketika
terjun dia menimpa seorang gadis cantik. Dan tanpa diduga pula sang pelukis
langsung mengadakan hubungan jasmani dengan si gadis diatas jalan raya. Hal ini
membuat orang-orang histeris dan akhirnya seorang brigadier polisi membawa
mereka ke kantor catatan sipil dan mengawinkan mereka. Hidup bahagia bersama
sang istri membuat pelukis benar-benar kehilangan. Apalagi setelah dia tahu
bahwa istrinya mati karena telah melihat ibu kandung ada bersama gerombolan
nona-nona tua yang menyaksikan kebahagiaan mereka saat hidup dalam gubuk tepi
laut. Pelukis pun langsung pergi kekantor sipil guna mengurusi penguburan
istrinya tetapi tak ada tanggapan positif dari pengusaha penguburan. Itu
terjadi karena pelukis tak tahu apa-apa tentang istrinya. Yang dia tahu
hanyalah kecintaan pada istrinya. Sehingga mayat istrinya terkatung-katung
karena tak memiliki surat penguburan yang sah. Pelukis pun menghilang ketika
dicari walikota (merupakan walikota kedua dalam novel ini, dia adalah wakil
walikota yang diangkat menjadi walikota setelah walikota pertama gantung diri
karena tak bisa memecahkan masalah mengundang pelukis saat akan ada kunjungan
tamu asing) yang ikut menghadiri penguburan istri pelukis. Sampai akhirnya
pengusaha penguburan itu menyesali perbuatannya dan dengan keputusan walikota
akhirnya mayat istri pelukis dikuburkan. Sampai penguburan usai pelukis tak
kelihatan. Saat kembali ke gubuknya dia melihat wanita tua kecil. Tak tahu itu
siapa, ternyata adalah ibu kandung dari si gadis. Bercerita panjang tentang
masa lalunya yang suram dan sampai saat terakhir dia bertatapan dengan anaknya
yang justru membuat delima bagi si anak. Lalu pergi sambil menagis. Dan sesaat
kemudian pelukis ada dalam gubuknya, memandangi keadaan sekitar yang penuh
karangan bunga, membakarnya sampai habis. Hingga tersisa beberapa yang ia bawa
ke kuburan istrinya. Ia titipkan karangan bunga pada centeng perkuburan. Ziarah
tanpa melihat makam istrinya. Setelah itu hidup pelukis semakin tak tentu arah.
Ia seolah tak pernah percaya bahwa istrinya telah mati. Pagi harinya hanya
digunakan untuk menunggu istrinya ditikungan entah tikungan mana dan malam
harinya dituangkan arak keperutnya, memanggil Tuhannya, meneriakkan nama
istrinya, menangis dan kemudian tertawa keras-keras. Hingga akhirnya datang
opseter perkuburan yang meminta dia mengapur tembok perkuburan kotapraja yang
sebelumnya telah berbekas pamplet-pamplet polisi bahwa dia dicari.
Pelukis menerima tawaran itu dan esoknya ia mulai bekerja mengapur tembok perkuburan kotapraja itu 5 jam berturut-turut tiap harinya, sedangkan opseter perkuburan mengintip dari rumah dinasnya. Pekerjaan baru pelukis ini membawa perubahan tingkah laku pelukis sehingga membuat seluruh negeri geger. Hingga walikota akan memberhentikan Opseter perkuburan. Tetapi ketika mengantar surat pemberhentian kerja itu, walikota malah mati sendiri karena kata-kata Opseter tentang proporsi. Sebelumnya juga pernah terjadi kekacauan dinegeri karena Opseter perkuburan memakai rasionalisme dalam kerjanya dan hanya memberi instruksi kerja pada selembar kertas pada pegawainya. Setelah beberapa hari pelukis mengapur tembok perkuburan pada suatau hari dia bergegas pulang sebelum 5 jam berturut-turut. Opseter perkuburan heran kemudian mendatanginya dan ternyata pelukis ingin berhenti bekerja.Opseter kebingungan tetapi pelukis menjelaskan bahwa dia tahu maksud Opseter memperkerjakannya. Bahwa selain untuk kepentingan Opseter sendiri, Opseter ingin pelukis menziarahi istrinya yang sudah tiada itu. Keesokan harinya Opseter ditemukan gantung diri. Perkuburan geger, tetapi hanya sedikit sekali empati dari pegawai-pegawai perkuburan. Maklum mereka hanya mengenal Opseter lewat instruksi kerjanya saja tanpa pernah bertemu dan mengenalnya. Penguburan Opseter berlangsung cepat. Setelah penguburan, pelukis bertemu Maha guru dari Opseter yang kemudian menceritakan riwayat Opseter. Diakhir cerita, pelukis akhirnya pergi ke balai kota melamar menjadi Opseter Perkuburan. Untuk Ziarah yang terus-menerus pada mayat-mayat manusia, pada mayat istrinya.
Pelukis menerima tawaran itu dan esoknya ia mulai bekerja mengapur tembok perkuburan kotapraja itu 5 jam berturut-turut tiap harinya, sedangkan opseter perkuburan mengintip dari rumah dinasnya. Pekerjaan baru pelukis ini membawa perubahan tingkah laku pelukis sehingga membuat seluruh negeri geger. Hingga walikota akan memberhentikan Opseter perkuburan. Tetapi ketika mengantar surat pemberhentian kerja itu, walikota malah mati sendiri karena kata-kata Opseter tentang proporsi. Sebelumnya juga pernah terjadi kekacauan dinegeri karena Opseter perkuburan memakai rasionalisme dalam kerjanya dan hanya memberi instruksi kerja pada selembar kertas pada pegawainya. Setelah beberapa hari pelukis mengapur tembok perkuburan pada suatau hari dia bergegas pulang sebelum 5 jam berturut-turut. Opseter perkuburan heran kemudian mendatanginya dan ternyata pelukis ingin berhenti bekerja.Opseter kebingungan tetapi pelukis menjelaskan bahwa dia tahu maksud Opseter memperkerjakannya. Bahwa selain untuk kepentingan Opseter sendiri, Opseter ingin pelukis menziarahi istrinya yang sudah tiada itu. Keesokan harinya Opseter ditemukan gantung diri. Perkuburan geger, tetapi hanya sedikit sekali empati dari pegawai-pegawai perkuburan. Maklum mereka hanya mengenal Opseter lewat instruksi kerjanya saja tanpa pernah bertemu dan mengenalnya. Penguburan Opseter berlangsung cepat. Setelah penguburan, pelukis bertemu Maha guru dari Opseter yang kemudian menceritakan riwayat Opseter. Diakhir cerita, pelukis akhirnya pergi ke balai kota melamar menjadi Opseter Perkuburan. Untuk Ziarah yang terus-menerus pada mayat-mayat manusia, pada mayat istrinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar