A. Pengertian
pendidikan
Pendidikan merupakan suatu usaha sadar untuk meningkatkan kemampuan dan
keahlian setiap pribadi individu, baik di dalam atau di luar sekolah dan
berlansung seumur hidup. Pendidikan sebagai bagian dari ilmu Humaniora
memperlihatkan proses yang terus menerus mengarah pada kesempurnaan, yang
semakin manusiawi.
Pendidikan sangat penting bagi kehidupan
manusia, dimana pendidikan itu memberikan ilmu secara terus menerus agar
mencapai tingkat pengetahuan yang lebih sempurna sehingga setiap individu lebih bisa berpikir realistis, berwawasan
luas, berdikari dan mampu bersaing dengan individu lain. Selain itu pendidikan
di era globalisasi ini juga sangat menentukan tingkat keberhasilan kepribadian
serta kemakmuran sosial setiap individu yang menggelutinya. Semakin tinggi
tingkat pendidikan seseorang, semakin tinggi pula kesempatan seseorang itu
dalam meraih kesuksesan. Bukan menjadi sesuatu hal yang asing lagi jika tingkat
kemiskinan di Indonesia sangat banyak dan meluas. Adanya pengemis, pengamen
jalanan dan pemulung dimana lakonnya adalah anak-anak kecil yang seharusnya
bersekolah, tidak menghabiskan waktunya untuk bekerja memenuhi kebutuhan
sehari-hari layaknya orang dewasa yang sudah dituntut oleh kebutuhan. Selain
adanya pengemis, pengamen jalanan dan pemulung juga masih banyak masyarakat
yang hidup di daerah terpencil yang masih asing dengan pendidikan, selain
karena kurangnya kesadaran akan pentingnya pendidikan. Selain itu kebanyakan
daerah terpencil di Indonesia masih jarang terdapat sekolah-sekolah yang
menunjang
*)Bangun Setio Laksono, Mahasiswa Program Studi PGSD Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Yogyakarta.
pendidikan pada masyarakat,
dan pemerintah kurang tanggap dalam mengatasi salah tersebut sehingga
masyarakat yang belum mengerti pentingnya sebuah pendidikan jadi semakin tidak
peduli dengan pendidikan. Semua hal itu merupakan salah satu contoh nyata
akibat dari kesadaran masyarakat yang kurang memahami arti penting sebuah
pendidikan. Mengapa demikian? Karena untuk pemerintah atau pejabat-pejabat
tinggi yang sangat mengerti pendidikan masih belum menyeluruh dalam mengatasi
tingkat kemiskinan ataupun mengatasi masyarakat yang masih hidup di daerah
terpencil. Pejabat-pejabat lebih mementingkan kepentingan kelompoknya.
Ada beberapa agenda untuk membawa pendidikan bangsa di
masa depan.
1. mengoptimalkan kembali peran pemerintah, dalam hal ini
Depdiknas, dalam merumuskan kebijakan pendidikan yang bervisi kerakyatan dan
kemanusiaan. Pendidikan ke depan adalah kurikulum yang mampu menggugah potensi
kreatif siswa didik yang autentik yang nantinya dapat berguna sebagai modal
kehidupan ke depan serta mampu melestarikan tradisi dan budaya bangsa yang
luhur nan agung.
2. mengantisipasi arus informasi global dengan pendidikan
berkarakter dan keterampilan yang profesional. Pendidikan berkarakter akan menciptakan
sosok manusia yang mempunyai kekuatan ideologi yang kuat, tangguh, dan komitmen
tinggi. Dengan pendidikan karakter, maka Indonesia yang berideologi Pancasila
akan tetap berperan dalam menghadapi globalisasi yang menghendaki penyeragaman
dari Barat. Pancasila akan tetap menjadi falsafah berbangsa dan bernegara yang
tak tergantikan oleh paham bernama globalisme.
3. Terciptanya pribadi yang cakap, terampil, dan
profesional. Siswa tidak hanya digugah potensinya, namun juga diberi pengarahan
dalam mengembangkannya di masa depan, sehingga setelah sekolah mereka akan
menjadi manusia unggul yang mengantarkan Republik Indonesia sebagai negara
impian.
Secara kuantitatif, selama 30 tahun terakhir,
perkembangan jumlah sekolah di Indonesia sangat pesat. Sebab, bisa dikatakan selama 30 tahun
ini, jumlah sekolah dasar (SD) misalnya naik sekitar 300%. Namun, perkembangan
kuantitas itu tidak disertai peningkatan kualitas yang memadai. Akibatnya,
muncul berbagai ketimpangan, di antaranya:
a. Ketimpangan antara kualitas lulusan (out put)
pendidikan dengan kualifikasi tenaga yang dibutuhkan.
b. Ketimpangan pendidikan antara desa dan kota, antara
Jawa dan luar Jawa, antara penduduk kaya dan miskin.
Beberapa
realita yang ada bahwa terjadinya suatu tindakan unjuk rasa yang seharusnya
berjalan secara tertib namun kenyataannya lebih banyak unjuk rasa yang berujung
pada tindakan kriminal anarkis, sehingga para pelajar yang menyaksikan secara
langsung ataupun tanpa disadari ketika pelajar melakukan unjuk rasa pelajar
akan mengikuti tindakan seperti yang pernah pelajar saksikan. Selain itu
seorang pelajar juga tidak lepas dari yang namanya kebutuhan ekonomi yang pada
dasarnya berawal dari suatu kesalahan dalam pergaulan, maka sudah menjadi hal
yang lumrah disaksikan ketika seorang pelajar menggunakan uang yang seharusnya
untuk keperluan pendidikan justru digunakan untuk keperluan pribadi yang
sesungguhnya hanya merusak diri sendiri, seperti merokok, minum minuman keras,
melakukan aktifitas yang menyimpang dari seorang pelajar seperti pergi ke
tempat hiburan malam, melakukan balap liar, berpacaran dengan cara diluar batas
etika seorang pelajar sehingga timbul seks bebas yang sudah tidak asing lagi
didengar dan disaksikan masyrakat indonesia yang hingga kini kebiasaan tersebut
turun temurun menjadi sorotan. Semua itu dampak dari kurangnya perhatian, kasih
sayang, serta pendidikan moral yang diajarkan dalam keluarga. Kesalahan
tindakan yang dilakukan seorang pelajar sepenuhnya bukan kesalahan pelajar
seperti yang telah dipaparkan diatas yang menerangkan tentang pendidik, moral
dalam keluarga, serta pergaulan lingkungan yang lepas dari pengawasan orangtua.
Maka
salah satu hal penting yang menjadi upaya bangsa dalam mengatasi krisis pendidikan
yang terjadi adalah melalui pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan
nilai, pendidikan akhlak dan budi pekerti yang diterapkan pada tiap sekolah, agar
menjadi modal awal atau dasar bagi para pelajar dalam bertingkah laku,
bersosialisasi serta memiliki karakter dan nilai yang baik untuk kedepannya
menjadi pengubah demi perkembangan bangsa, mencari solusi untuk penyelesaian masalah
bangsa, menciptakan ide-ide baru untuk
meningkatkan mutu bangsa.
Pada
pendidikan memerlukan seorang pendidik (guru) untuk mengarahkan, membimbing
serta memberikan asupan positif sehingga menciptakan reaksi positif pada para
pelajar. Akhlak, kreatifitas, pengetahuan dan karakter guru sangat mempengaruhi
proses pembelajaran di kelas, selain itu juga sangat mempengaruhi perkembangan
karakter anak (pelajar). Karakter serta nilai yang tertanam dalam pribadi
pendidik akan menjadi acuan dari tingkah laku dan cara mendidiknya di dalam proses
belajar. Akhlak dan budi pekerti pendidik yang baik akan sangat menentukan
tingkat keberhasilan pendidikan moral yang pada akhirnya akan mendukung bagi
pelajar untuk memiliki karakter pelajar yang baik. Kreatifitas yang ada pada
guru juga mempengaruhi proses pembelajaran agar lebih hidup dan tidak
membosankan. Perkembangan daya pikir pelajar biasanya juga melihat dari
perilaku guru, karena seorang pelajar
akan lebih mudah menangkap dari segi perilaku seorang pendidik yang pada
dasarnya pola pikir pelajar secara tidak langsung telah terangsang dari
perilaku yang diterapkan oleh seorang pendidik. Selain itu orang tua harus
dilibatkan dalam pembentukan karakter, karena keberadaan seorang pelajar lebih
banyak di dalam lingkungan keluarga dari pada di lingkungan sekolah. Sehingga
orang tua memiliki peranan yang sangat besar dalam membentuk karakter pelajar
menjadi yang lebih baik.
Pancasila
sebagai dasar negara Indonesia juga dapat membentuk moral peserta didik yang
baik jika diterapkan pada pendidikan di sekolah. Karena isi dan kandungan dari
pancasila mengajarkan pada anak didik untuk berperilaku sesuai dengan nilai-nilai
dan norma pada masyarakat.
Seperti
yang tercantum dalam sila-sila pancasila, sila pertama yaitu Ketuhanan Yang
Maha Esa, dalam sila tersebut anak diajarkan tentang pengakuan adanya Tuhan
Yang Maha Esa, menjamin penduduk untuk memeluk agama masing-masing dan
beribadah menurut agamanya, tidak memaksakan warga negara untuk beragama tetapi
diwajibkan untuk memeluk agama sesuai dengan hukum yang berlaku, Atheisme
dilarang hidup dan berkembang di Indonesia, menjamin berkembang dan tumbuh
suburnya kehidupan beragama, toleransi antar umat dan beragama, negara memberi
fasilitas bagi tumbuh kembangnya agama dan iman warga negara dan menjadi
mediator konflik antar agama. Pada sila pertama tersebut dapat menjadikan anak
yang mempunyai kepribadian baik karena mempunyai rasa toleransi terhadap
kehidupan beragama.
Pada
sila kedua pancasila yaitu Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, mempunyai
kandungan menjunjung tinggi kemerdekaan sebagai hak segala bangsa. Hal ini juga
bersifat universal, dan bila diterapkan dalam masyarakat Indonesia sudah barang
tentu bangsa Indonesia menghargai hak dari setiap warga negara dalam masyarakat
Indonesia. Bila diterapkan dalam pendidikan di Indonesia sudah barang tentu setiap
siswa akan bisa menghargai hak-hak dan kewajiban dari setiap siswa yang
berpedoman pada pancasila.
Pada
sila ketiga pancasila yaitu Persatuan Indonesia, mempunyai kandungan sebagai
berikut :
1. Nasionalisme,
merupakan perasaan satu sebagai suatu bangsa, satu dengan seluruh warga yang
ada dalam masyarakat. Bila diterapkan dalam dunia pendidikan, rasa Nasionalisme
yang tinggi sangat diperlukan setiap siswa supaya siswa mampu mengontrol diri
untuk tidak melakukan hal-hal yang negatif yang bisa membuat perpecahan antar
pelajar.
2. Cinta
bangsa dan tanah air, setiap siswa diharapkan mempunyai rasa cinta terhadap
jasa-jasa pahlawan, sehingga menambah rasa patriotisme.
3. Menggalang
persatuan dan kesatuan bangsa, siswa menggalang persaudaraan antar sekolah,
mulai dari yang terdekat sampai menyatukan bangsa Indonesia.
4. Menghilangkan
penonjolan kekuatan atau kekuasaan, keturunan, dan perbedaan warna kulit, siswa diharapkan saling
menghormati suku, adat, dan kebudayaan setiap warga bernegara.
5. Menumbuhkan
rasa senasib dan sepenanggungan, siswa diharapkan mempunyai rasa kekeluargaan
dan kebersamaan antar pelaar Indonesia.
Pada sila ke empat yaitu Kerakyatan Yang
Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan.
1. Hakikat
sila ini adalah demokrasi. Demokrasi dalam arti umum yaitu pemerintahn dari
rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
2. Permusyawaratan,
artinya mengusahakan putusan bersama secara bulat, baru diadakan tindakan
bersama, dengan demikian Pancasila adalah kebulatan mufakat sebagai hasil
kebijaksanaan.
3. Dalam
pelaksanaan keputusan diperlukan kejujuran bersama. Dalam sila ini bahwa
pancasila sangat berpengaruh pada pendidikan, dengan bermusyawarah siswa
diharapkan mampu menghargai pendapat orang lain, dan mampu mengekspresikan
pendapat sendiri dengan prinsip kejujuran.
Pada sila ke lima yaitu Keadilan Sosial Bagi
Seluruh Rakyat Indonesia.
1. Kemakmuraan
yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia, tidak memandang apa dan siapa orang
tersebut.
2. Seluruh
kekayaan alam dan sebagainya dipergunakan bagi kebahagiaan bersama menurut
potensi masing-masing.
3. Melindungi
yang lemah supaya kelompok warga masyarakat bisa bekerja sesuai dengan bidang
dan kemampuannya.
Pada sila ini mempunyai arti dan kandungan
yang besar untuk kehidupan warga masyarakat dan dalam bidang pendidikan,
kemakmuraan rakyat adalah kemakmuran suatu negara, jika negara tersebut warga
masyarakat menerima hak-hak yang sama dan sejahtera, maka juga akan
meningkatkan tingkat pendidikan. Semua orang memiliki hak dan kewajiban yang
sama untuk menimba pendidikan.
Kesimpulan
Pendidikan sangat penting bagi kehidupan
manusia, dimana pendidikan itu memberikan ilmu secara terus menerus agar
mencapai tingkat pengetahuan yang lebih sempurna sehingga setiap individu lebih bisa berpikir realistis, berwawasan
luas, berdikari dan mampu bersaing dengan individu lain. Pendidikan membutuhkan
sebuah acuan agar suatu pendidikan itu dapat semakin maju baik kualitas maupun
kuantitasnya. Agar selaras antara pendidikan yang mengacu pada Pancasila
diperlukan pula adanya seorang pendidik yang membimbing, mengarahkan, serta
mengevaluasi proses pembelajaran.
Pancasila menawarkan sebuah nilai-nilai dan kandungan yang
dapat membantu Pendidikan di negara ini semakin meningkat. Semua hanya
tergantung masyarakatnya dalam menanamkan Pancasila, apakah sesuai atau tidak.
Apabila masyarakat selalu menyimpang dari nilai-nilai yang ada dalam Pancasila,
maka paradigma pembangunan pada pendidikanpun akan terhambat dan timbullah
masalah-masalah baru yang terkait dengan pendidikan. Salah satu contoh,
kurangnya pemahaman masyarakat terhadap pentingnya sebuah pendidikan,
karakteristik atau perilaku anak yang menyimpang dan tidak memahami arti
pancasia, sehingga bertindak sewenang-wenang karena kurangnya pendidikan yang
ia terima.
Maka
salah satu hal penting yang menjadi upaya bangsa dalam mengatasi krisis
pendidikan yang terjadi adalah melalui pendidikan karakter, pendidikan moral,
pendidikan nilai, pendidikan akhlak dan budi pekerti yang diterapkan pada tiap
sekolah, agar menjadi modal awal atau dasar bagi para pelajar dalam bertingkah
laku, bersosialisasi serta memiliki karakter dan nilai yang baik untuk
kedepannya menjadi pengubah demi perkembangan bangsa, mencari solusi untuk
penyelesaian masalah bangsa, menciptakan ide-ide baru untuk meningkatkan mutu bangsa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar