Selasa, 18 Desember 2012

PANCASILA SEBAGAI MODAL DASAR PELAJAR



A.  Pengertian pendidikan
      Pendidikan merupakan suatu usaha  sadar untuk meningkatkan kemampuan dan keahlian setiap pribadi individu, baik di dalam atau di luar sekolah dan berlansung seumur hidup. Pendidikan sebagai bagian dari ilmu Humaniora memperlihatkan proses yang terus menerus mengarah pada kesempurnaan, yang semakin manusiawi.
      Pendidikan sangat penting bagi kehidupan manusia, dimana pendidikan itu memberikan ilmu secara terus menerus agar mencapai tingkat pengetahuan yang lebih sempurna sehingga setiap individu  lebih bisa berpikir realistis, berwawasan luas, berdikari dan mampu bersaing dengan individu lain. Selain itu pendidikan di era globalisasi ini juga sangat menentukan tingkat keberhasilan kepribadian serta kemakmuran sosial setiap individu yang menggelutinya. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin tinggi pula kesempatan seseorang itu dalam meraih kesuksesan. Bukan menjadi sesuatu hal yang asing lagi jika tingkat kemiskinan di Indonesia sangat banyak dan meluas. Adanya pengemis, pengamen jalanan dan pemulung dimana lakonnya adalah anak-anak kecil yang seharusnya bersekolah, tidak menghabiskan waktunya untuk bekerja memenuhi kebutuhan sehari-hari layaknya orang dewasa yang sudah dituntut oleh kebutuhan. Selain adanya pengemis, pengamen jalanan dan pemulung juga masih banyak masyarakat yang hidup di daerah terpencil yang masih asing dengan pendidikan, selain karena kurangnya kesadaran akan pentingnya pendidikan. Selain itu kebanyakan daerah terpencil di Indonesia masih jarang terdapat sekolah-sekolah yang menunjang

*)Bangun Setio Laksono, Mahasiswa Program Studi PGSD Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Yogyakarta.
pendidikan pada masyarakat, dan pemerintah kurang tanggap dalam mengatasi salah tersebut sehingga masyarakat yang belum mengerti pentingnya sebuah pendidikan jadi semakin tidak peduli dengan pendidikan. Semua hal itu merupakan salah satu contoh nyata akibat dari kesadaran masyarakat yang kurang memahami arti penting sebuah pendidikan. Mengapa demikian? Karena untuk pemerintah atau pejabat-pejabat tinggi yang sangat mengerti pendidikan masih belum menyeluruh dalam mengatasi tingkat kemiskinan ataupun mengatasi masyarakat yang masih hidup di daerah terpencil. Pejabat-pejabat lebih mementingkan kepentingan kelompoknya.
Ada beberapa agenda untuk membawa pendidikan bangsa di masa depan.
1.    mengoptimalkan kembali peran pemerintah, dalam hal ini Depdiknas, dalam merumuskan kebijakan pendidikan yang bervisi kerakyatan dan kemanusiaan. Pendidikan ke depan adalah kurikulum yang mampu menggugah potensi kreatif siswa didik yang autentik yang nantinya dapat berguna sebagai modal kehidupan ke depan serta mampu melestarikan tradisi dan budaya bangsa yang luhur nan agung.
2.    mengantisipasi arus informasi global dengan pendidikan berkarakter dan keterampilan yang profesional. Pendidikan berkarakter akan menciptakan sosok manusia yang mempunyai kekuatan ideologi yang kuat, tangguh, dan komitmen tinggi. Dengan pendidikan karakter, maka Indonesia yang berideologi Pancasila akan tetap berperan dalam menghadapi globalisasi yang menghendaki penyeragaman dari Barat. Pancasila akan tetap menjadi falsafah berbangsa dan bernegara yang tak tergantikan oleh paham bernama globalisme.
3.    Terciptanya pribadi yang cakap, terampil, dan profesional. Siswa tidak hanya digugah potensinya, namun juga diberi pengarahan dalam mengembangkannya di masa depan, sehingga setelah sekolah mereka akan menjadi manusia unggul yang mengantarkan Republik Indonesia sebagai negara impian.
Secara kuantitatif, selama 30 tahun terakhir, perkembangan jumlah sekolah di Indonesia sangat pesat. Sebab, bisa dikatakan selama 30 tahun ini, jumlah sekolah dasar (SD) misalnya naik sekitar 300%. Namun, perkembangan kuantitas itu tidak disertai peningkatan kualitas yang memadai. Akibatnya, muncul berbagai ketimpangan, di antaranya:
a.    Ketimpangan antara kualitas lulusan (out put) pendidikan dengan kualifikasi tenaga yang dibutuhkan.
b.    Ketimpangan pendidikan antara desa dan kota, antara Jawa dan luar Jawa, antara penduduk kaya dan miskin.

Beberapa realita yang ada bahwa terjadinya suatu tindakan unjuk rasa yang seharusnya berjalan secara tertib namun kenyataannya lebih banyak unjuk rasa yang berujung pada tindakan kriminal anarkis, sehingga para pelajar yang menyaksikan secara langsung ataupun tanpa disadari ketika pelajar melakukan unjuk rasa pelajar akan mengikuti tindakan seperti yang pernah pelajar saksikan. Selain itu seorang pelajar juga tidak lepas dari yang namanya kebutuhan ekonomi yang pada dasarnya berawal dari suatu kesalahan dalam pergaulan, maka sudah menjadi hal yang lumrah disaksikan ketika seorang pelajar menggunakan uang yang seharusnya untuk keperluan pendidikan justru digunakan untuk keperluan pribadi yang sesungguhnya hanya merusak diri sendiri, seperti merokok, minum minuman keras, melakukan aktifitas yang menyimpang dari seorang pelajar seperti pergi ke tempat hiburan malam, melakukan balap liar, berpacaran dengan cara diluar batas etika seorang pelajar sehingga timbul seks bebas yang sudah tidak asing lagi didengar dan disaksikan masyrakat indonesia yang hingga kini kebiasaan tersebut turun temurun menjadi sorotan. Semua itu dampak dari kurangnya perhatian, kasih sayang, serta pendidikan moral yang diajarkan dalam keluarga. Kesalahan tindakan yang dilakukan seorang pelajar sepenuhnya bukan kesalahan pelajar seperti yang telah dipaparkan diatas yang menerangkan tentang pendidik, moral dalam keluarga, serta pergaulan lingkungan yang lepas dari pengawasan orangtua.
Maka salah satu hal penting yang menjadi upaya bangsa dalam mengatasi krisis pendidikan yang terjadi adalah melalui pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan nilai, pendidikan akhlak dan budi pekerti yang diterapkan pada tiap sekolah, agar menjadi modal awal atau dasar bagi para pelajar dalam bertingkah laku, bersosialisasi serta memiliki karakter dan nilai yang baik untuk kedepannya menjadi pengubah demi perkembangan bangsa, mencari solusi untuk penyelesaian masalah bangsa, menciptakan ide-ide baru  untuk meningkatkan mutu bangsa.
Pada pendidikan memerlukan seorang pendidik (guru) untuk mengarahkan, membimbing serta memberikan asupan positif sehingga menciptakan reaksi positif pada para pelajar. Akhlak, kreatifitas, pengetahuan dan karakter guru sangat mempengaruhi proses pembelajaran di kelas, selain itu juga sangat mempengaruhi perkembangan karakter anak (pelajar). Karakter serta nilai yang tertanam dalam pribadi pendidik akan menjadi acuan dari tingkah laku dan cara mendidiknya di dalam proses belajar. Akhlak dan budi pekerti pendidik yang baik akan sangat menentukan tingkat keberhasilan pendidikan moral yang pada akhirnya akan mendukung bagi pelajar untuk memiliki karakter pelajar yang baik. Kreatifitas yang ada pada guru juga mempengaruhi proses pembelajaran agar lebih hidup dan tidak membosankan. Perkembangan daya pikir pelajar biasanya juga melihat dari perilaku guru, karena seorang  pelajar akan lebih mudah menangkap dari segi perilaku seorang pendidik yang pada dasarnya pola pikir pelajar secara tidak langsung telah terangsang dari perilaku yang diterapkan oleh seorang pendidik. Selain itu orang tua harus dilibatkan dalam pembentukan karakter, karena keberadaan seorang pelajar lebih banyak di dalam lingkungan keluarga dari pada di lingkungan sekolah. Sehingga orang tua memiliki peranan yang sangat besar dalam membentuk karakter pelajar menjadi yang lebih baik.
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia juga dapat membentuk moral peserta didik yang baik jika diterapkan pada pendidikan di sekolah. Karena isi dan kandungan dari pancasila mengajarkan pada anak didik untuk berperilaku sesuai dengan nilai-nilai dan norma pada masyarakat.
Seperti yang tercantum dalam sila-sila pancasila, sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, dalam sila tersebut anak diajarkan tentang pengakuan adanya Tuhan Yang Maha Esa, menjamin penduduk untuk memeluk agama masing-masing dan beribadah menurut agamanya, tidak memaksakan warga negara untuk beragama tetapi diwajibkan untuk memeluk agama sesuai dengan hukum yang berlaku, Atheisme dilarang hidup dan berkembang di Indonesia, menjamin berkembang dan tumbuh suburnya kehidupan beragama, toleransi antar umat dan beragama, negara memberi fasilitas bagi tumbuh kembangnya agama dan iman warga negara dan menjadi mediator konflik antar agama. Pada sila pertama tersebut dapat menjadikan anak yang mempunyai kepribadian baik karena mempunyai rasa toleransi terhadap kehidupan beragama.
Pada sila kedua pancasila yaitu Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, mempunyai kandungan menjunjung tinggi kemerdekaan sebagai hak segala bangsa. Hal ini juga bersifat universal, dan bila diterapkan dalam masyarakat Indonesia sudah barang tentu bangsa Indonesia menghargai hak dari setiap warga negara dalam masyarakat Indonesia. Bila diterapkan dalam pendidikan di Indonesia sudah barang tentu setiap siswa akan bisa menghargai hak-hak dan kewajiban dari setiap siswa yang berpedoman pada pancasila.
Pada sila ketiga pancasila yaitu Persatuan Indonesia, mempunyai kandungan sebagai berikut :
1.    Nasionalisme, merupakan perasaan satu sebagai suatu bangsa, satu dengan seluruh warga yang ada dalam masyarakat. Bila diterapkan dalam dunia pendidikan, rasa Nasionalisme yang tinggi sangat diperlukan setiap siswa supaya siswa mampu mengontrol diri untuk tidak melakukan hal-hal yang negatif yang bisa membuat perpecahan antar pelajar.
2.    Cinta bangsa dan tanah air, setiap siswa diharapkan mempunyai rasa cinta terhadap jasa-jasa pahlawan, sehingga menambah rasa patriotisme.
3.    Menggalang persatuan dan kesatuan bangsa, siswa menggalang persaudaraan antar sekolah, mulai dari yang terdekat sampai menyatukan bangsa Indonesia.
4.    Menghilangkan penonjolan kekuatan atau kekuasaan, keturunan, dan  perbedaan warna kulit, siswa diharapkan saling menghormati suku, adat, dan kebudayaan setiap warga bernegara.
5.    Menumbuhkan rasa senasib dan sepenanggungan, siswa diharapkan mempunyai rasa kekeluargaan dan kebersamaan antar pelaar Indonesia.
 Pada sila ke empat yaitu Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan.
1.    Hakikat sila ini adalah demokrasi. Demokrasi dalam arti umum yaitu pemerintahn dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
2.    Permusyawaratan, artinya mengusahakan putusan bersama secara bulat, baru diadakan tindakan bersama, dengan demikian Pancasila adalah kebulatan mufakat sebagai hasil kebijaksanaan.
3.    Dalam pelaksanaan keputusan diperlukan kejujuran bersama. Dalam sila ini bahwa pancasila sangat berpengaruh pada pendidikan, dengan bermusyawarah siswa diharapkan mampu menghargai pendapat orang lain, dan mampu mengekspresikan pendapat sendiri dengan prinsip kejujuran.
 Pada sila ke lima yaitu Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
1.    Kemakmuraan yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia, tidak memandang apa dan siapa orang tersebut.
2.    Seluruh kekayaan alam dan sebagainya dipergunakan bagi kebahagiaan bersama menurut potensi masing-masing.
3.    Melindungi yang lemah supaya kelompok warga masyarakat bisa bekerja sesuai dengan bidang dan kemampuannya.
 Pada sila ini mempunyai arti dan kandungan yang besar untuk kehidupan warga masyarakat dan dalam bidang pendidikan, kemakmuraan rakyat adalah kemakmuran suatu negara, jika negara tersebut warga masyarakat menerima hak-hak yang sama dan sejahtera, maka juga akan meningkatkan tingkat pendidikan. Semua orang memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk menimba pendidikan.








Kesimpulan

      Pendidikan sangat penting bagi kehidupan manusia, dimana pendidikan itu memberikan ilmu secara terus menerus agar mencapai tingkat pengetahuan yang lebih sempurna sehingga setiap individu  lebih bisa berpikir realistis, berwawasan luas, berdikari dan mampu bersaing dengan individu lain. Pendidikan membutuhkan sebuah acuan agar suatu pendidikan itu dapat semakin maju baik kualitas maupun kuantitasnya. Agar selaras antara pendidikan yang mengacu pada Pancasila diperlukan pula adanya seorang pendidik yang membimbing, mengarahkan, serta mengevaluasi proses pembelajaran.
          Pancasila menawarkan sebuah nilai-nilai dan kandungan yang dapat membantu Pendidikan di negara ini semakin meningkat. Semua hanya tergantung masyarakatnya dalam menanamkan Pancasila, apakah sesuai atau tidak. Apabila masyarakat selalu menyimpang dari nilai-nilai yang ada dalam Pancasila, maka paradigma pembangunan pada pendidikanpun akan terhambat dan timbullah masalah-masalah baru yang terkait dengan pendidikan. Salah satu contoh, kurangnya pemahaman masyarakat terhadap pentingnya sebuah pendidikan, karakteristik atau perilaku anak yang menyimpang dan tidak memahami arti pancasia, sehingga bertindak sewenang-wenang karena kurangnya pendidikan yang ia terima.
Maka salah satu hal penting yang menjadi upaya bangsa dalam mengatasi krisis pendidikan yang terjadi adalah melalui pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan nilai, pendidikan akhlak dan budi pekerti yang diterapkan pada tiap sekolah, agar menjadi modal awal atau dasar bagi para pelajar dalam bertingkah laku, bersosialisasi serta memiliki karakter dan nilai yang baik untuk kedepannya menjadi pengubah demi perkembangan bangsa, mencari solusi untuk penyelesaian masalah bangsa, menciptakan ide-ide baru  untuk meningkatkan mutu bangsa.

Tidak ada komentar: